Anti Copas

Tampilkan postingan dengan label Video Belajar Seni Tari. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Video Belajar Seni Tari. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 09 Mei 2015

Tari Piring (Tari Tradisional Padang - Sumatera Barat)


Tari Piring

"Tari Piring merupakan tarian pergaulan muda mudi yang kreatif, ceria, dan dinamis, sebagai gambaran dari rasa kebersamaan satu dengan yang lainnya."


Kilas Sejarah : Tari Piring berasal dari Sumatera Barat, tepatnya di Solok. Pada awalnya, tari piring dilakukan oleh perempuan dan laki-laki untuk membawakan sesembahan kepada para dewa sebagai wujud rasa syukur atas masa panen yang memberikan hasil sangat memuaskan. Mereka menari dengan sangat lincah sembari memegang piring-piring di telapak tangannya. Terdapat tiga jenis variasi gerakan dalam seni Tari Piring, yaitu tupai bagaluik (tupai bergelut), bagalombang (bergelombang), dan aka malilik (akal melilit).

Namun, seiring masuknya agama Islam maka tarian ini mengalami pergeseran sehingga tidak lagi untuk menyembah dewa melainkan untuk ditampilkan dalam acara hajatan ataupun juga acara pernikahan. Para penari pun beralih dari yang awalnya campuran, kini hanya dilakukan oleh perempuan-perempuan yang berdandan cantik. Barangkali Anda tidak akan percaya tanpa melihat secara langsung para penari bergerak cepat, atraktif, penuh semangat dan sangat indah dengan piring-piring yang sama sekali tidak bergoyang apalagi terjatuh. Tarian ini diawali dengan para penari yang mulai bergerak sesuai koreografi tarian dengan meletakkan piring di masing-masing tangannya tanpa terlepas atau bergeser sedikitpun.

Suasana semakin semarak dengan alat musik yang digunakan untuk mengiringi rentak tarian, yaitu talempong dan saluang. Kostum penari biasanya berwarna cerah sehingga mendukung kemeriahan acara. Anda juga akan mendengar irama khas yang dihasilkan dari suara dentingan antara piring yang dipegang dengan cincin yang memang sengaja dikenakan di jari penari. Kemudian, bersiaplah untuk menahan napas sejenak di bagian pertengahan pertunjukkan, sebab akan ada atraksi lempar piring. Ya, piring-piring yang dipegang oleh para penari sengaja dilemparkan sangat tinggi ke udara kemudian pecahannya diinjak dengan gerakan tari yang terus dilanjutkan. Hal ini menggambarkan perasaan gembira atas hasil panen yang melimpah. Ajaibnya, tidak akan akan satu luka pun di kaki para penari sekalipun mereka menginjaknya dengan kaki telanjang. Secara umum, penari dalam tarian tradisional ini berjumlah ganjil, antara tiga, lima, atau tujuh penari.

Tari Piring sangat terkenal keistimewaannya ke seluruh penjuru dunia. Tarian ini sudah pernah dipentaskan di luar Sumatera Barat, yakni di kota-kota besar seperti Jakarta, Medan, Pekanbaru, dan lainnya. Lebih membanggakannya lagi, Tari Piring juga turut dipentaskan dalam rangka tour festival kebudayaan Nusantara. Tidak hanya di dalam negeri, Tari Piring juga telah merambah ke dunia internasional dan pernah dipentaskan dalam festival budaya Nusantara di Malaysia, Singapura, Serbia, serta beberapa negara di Eropa. Apabila Anda ingin menampilkan Tari Piring dalam acara atau hajatan yang Anda selenggarakan, Anda dapat menyewa grup tarian ini sehingga para penari hadir di kota Anda dan menyuguhkan tarian tradisional Sumatera Barat secara langsung untuk tamu undangan Anda. Tentunya, akan membuat seluruh yang menonton menjadi terkagum-kagum atas keunikan koreografi yang dimiliki serta kelincahan gerakan para penari dengan piring-piring di tangannya.

Biasanya pementasaan Tari Piring ini dipentaskan oleh jumlah orang yang tak tertentu, tetapi yang menjadi syarat utama dalam melaksanakan Tari Piring adalah jumlah orang yang mementaskan Tari Piring ini harus berjumlah ganjil, namun pada zaman dulu Tari Piring ini dipentaskan oleh 1 orang saja. Dimana dalam pelaksanaan Tari Piring, para penari memegang tingkatan-tingkatan piring yang telah disusun dan sambil melakukan gerakan tari, dimana semakin tinggi tingkatan piring semakin baik pula. Ketika alunan musik yang mengikuti semakin cepat, piring yang dipegang oleh penari akan dilempar keatas dan pecahan piring tersebut akan diinjak-injak oleh penari dan penari pun tetap menari sampai musik yang mengikuti berhenti.

Dapat disimpulkan bahwa dalam Tari Piring memiliki nilai-nilai trasedental, yang dimana nilai-nilai trasendental ini terdapat dalam tata cara pelaksanaan Tari Piring. Dimana piring-piring yang dipegang oleh para penari ini disusun keatas,dimana menunjukan bahwa piring diatas bertujuan untuk kearah tuhan(trasendental) dan juga terlihat dalam fungsi dan tujuan tari piring ini merupakan mengucapakan rasa bersyukur dan terima kasih kepada yang ada diatas, terhadap apa yang telah diberikan kepada masyarakat Minangkabau.

Sumber :
  • http://sofyan-ali.blogspot.com/2013/10/tari-piring-tari-tradisional-padang.html

Jumat, 08 Mei 2015

Topeng Pajegan (Kesenian Tradisional Kebudayaan Bali)



Kilas Sejarah : Bali memiliki banyak sekali ragam kesenian dramatari yang penuh dengan simbol-simbol, baik simbol dari kehidupan nyata maupun simbol kehidupan alam lain. Simbolisme yang digambarkan oleh para seniman dramatari di Bali sangat komunikatif. Tidak hanya menghibur, tetapi juga memberikan pedoman yang mudah dicerna, tentang benar dan salah, tentang baik dan buruk. Dramatari tidak hanya menghubungkan nalar dan rasa antar manusia, tetapi juga menghubungkan alam sekala dan niskala manusia secara harmonis dan estetis. Salah satu jenis dramatari topeng yang ada di Bali adalah topeng Pajegan. Kata Pajegan, mengacu pada kegiatan bisnis pedesaan masyarakat Bali agraris yang berarti memborong. Sebab dramatari ini hanya dibawakan oleh seorang aktor, yang memerankan lebih dari satu karakter tokoh dalam setiap pementasannya atau memborong semua peran yang ada di dalam cerita. Masing-masing karakter tokoh yang diperankan oleh sang actor, selain dimanifestasikan melalui perbedaan karakter suara juga diwujudkan melalui bentuk topeng yang berbeda. Dramatari topeng Pajegan ini merupakan teater monolog yang menyampaikan cerita seutuhnya dan diperankan oleh seorang pemain saja. Sehingga dalam sebuah pementasan, sang aktor dituntut mempunyai kemampuan bercerita seperti seorang dalang, teknik olah vocal, dan kegesitan untuk berganti topeng tanpa memutus alur cerita yang dilakoni. Bagi masyarakat Bali, topeng Pajegan bukanlah sebuah pementasan seni biasa, melainkan sebuah ritual adat yang mengiringi upacara keagamaan Hindu dalam budaya Bali. Dalam setiap pementasan topeng Pajegan, meskipun sang aktor menampilkan beragam karakter tokoh namun selalu diakhiri dengan penampilan topeng Sidakarya. Kehadiran topeng Sidakarya ini merupakan bagian yang mutlak harus ada dalam setiap pementasan topeng Pajegan. Penari topeng Pajegan sesungguhnya adalah orang yang sangat tinggi tingkatan spiritualnya dan merupakan seorang pendharma wacana yang piawai. Dalam hal ini terdapat pawintenan khusus minimal pawintenan eka jati. Selain itu, ilmu agamanya juga harus luas karena dia harus memberikan pencerahan kepada masyarakat mengenai apa inti upacara tersebut, apa tujuan upacara, dan apa akibatnya kalau upacara ini tidak dilaksanakan. Demikian eratnya hubungan topeng Pajegan dengan upacara keagamaan sehingga topeng ini pun disebut sebagai topeng Wali. Bagi kawan-kawan yang belum pernah menyaksikan keindahan makna dalam gerak dramatari topeng Pajegan silakan menikmatinya disini.  

Sumber :

  • http://dunialain-laindunia.blogspot.com/2011/08/topeng-pajegan-sebuah-monolog-dalam.html

Tari Hudoq (Tari Tradisional Suku Dayak Bahau dan Dayak Modang - Kalimantan Timur)



Kilas Sejarah : Tari Hudoq adalah bagian ritual suku Dayak Bahau dan Dayak Modang, yang biasa dilakukan setiap selesai manugal atau menanam padi, pada bulan September – Oktober. Semua gerakannya, konon dipercaya turun dari kahyangan.

Berdasarkan kepercayaan suku Dayak Bahau dan Dayak Modang, Tari Hudoq ini digelar untuk mengenang jasa para leluhur mereka yang berada di alam nirwana. Mereka meyakini di saat musim tanam tiba roh-roh nenek moyang akan selalu berada di sekeliling mereka untuk membimbing dan mengawasi anak cucunya. Leluhur mereka ini berasal dari Asung Luhung atau Ibu Besar yang diturunkan dari langit di kawasan hulu Sungai Mahakam Apo Kayan. Asung Luhung memiliki kemampuan setingkat dewa yang bisa memanggil roh baik maupun roh jahat.

Oleh Asung Luhung, roh-roh yang dijuluki Jeliwan Tok Hudoq itu ditugaskan untuk menemui manusia. Namun karena wujudnya yang menyeramkan mereka diperintahkan untuk mengenakan baju samaran manusia setengah burung. Para Hudoq itu datang membawa kabar kebaikan. Mereka berdialog dengan manusia sambil memberikan berbagai macam benih dan tanaman obat-obatan sesuai pesan yang diberikan oleh Asung Luhung. Dari kisah itulah, nama Hudoq melekat di masyarakat Dayak Bahau dan Modang.

Tarian ini dilakukan erat hubungannya dengan upacara keagamaan, dengan maksud untuk memperoleh kekuatan mengatasi gangguan hama perusak tanaman dan mengharapkan diberikan kesuburan dengan hasil panen yang banyak.

Para penari Hudoq ini biasanya berjumlah 13 orang yang melambangkan 13 dewa pelindung dewa Hunyang Tenangan, dewa yang memelihara tanaman padi.

Di sela-sela kerimbunan semak belukar dan pepohonan mereka mulai mengenakan kostum yang terbuat dari daun pisang hingga menutupi mata kaki dan topeng kayu yang menyerupai binatang buas. Daun pisang adalah lambang kesejukan dan kesejahteraan. Sementara itu, warna pada Topeng Hudoq, biasanya didominasi oleh warna merah dan kuning, yang dipercaya sebagai warna kesukaan para dewa. Topeng warna merah ini merupakan gambaran perwujudan dewa Hunyang Tenangan.

Sebelum tarian Hudoq dimulai, terlebih dahulu digelar ritual Napoq. Napoq adalah prosesi sakral yang wajib dilakukan setiap kali hendak menyelenggarakan Hudoq. Ritual ini dipimpin oleh seorang Dayung yakni orang yang memiliki kemampuan supranatural untuk berkomunikasi langsung dengan para Hudoq.

Dengan didampingi dua asistennya, Dayung berkeliling kampung sambil membunyikan mebang atau gong kecil. Yang berfungsi sebagai alat komunikasi penyapaan kepada para roh-roh penjaga desa, bahwa Napoq sedang dilakukan. Selanjutnya, Dayung akan memanggil dan meminta kepada penguasa alam semesta yang memiliki empat sapaan yakni Tasao, Tuhan Pencipta; Tanyie', Tuhan Penjaga; Tawe'a, Tuhan Penuntun dan Tagean, Tuhan Yang Berkuasa; agar penyelenggaraan hudoq dapat berjalan aman dan lancar.

Kemudian, para Hudoq dijamu makan siang oleh sang Dayung, dengan cara menyuapi para penari yang telah dirasuki titisan dewa yang mengenakan topeng Hudoq. Setelah makan siang, Dayung pun melakukan komunikasi dengan para Hudoq, yang disebut dengan Tengaran Hudoq. Komunikasi ini, menggunakan bahasa Dayak yang santun dan halus, yang hanya bisa diterjemahkan oleh sang Dayung.

Dari komunikasi ini, biasanya diketahui kelanjutan hasil bercocok tanam, apakah panennya berhasil atau tidak. Dayung pun meminta, agar para Hudoq melindungi tanaman mereka dari serangan hama.

Kemudian, ritual dilanjutkan dengan kegiatan ugaaitan atau menarik nyawa padi. Dalam ritual ini, para Hudoq berbaris sejajar, yang urutannya disesuaikan dengan kelas sosial para dewa. Para dewa dengan kelas sosial tertinggi berada di barisan terdepan. Sambil membaca mantera, para Hudog menarik nyawa padi sebanyak tujuh kali.

Tari Hudoq biasanya digelar di tengah lapangan atau sawah yang akan ditanami. Dengan ritme cukup tinggi, para penari Hudoq melakukan gerakan Nyidok atau Nyebit yaitu gerakan maju sambil menghentak kaki. Disusul dengan gerakan Ngedok atau Nyigung yaitu menghentak¬kan kaki dengan tumit diiringi gerakan tangan yang mengibas-ngibas layaknya gerakan sayap seekor burung yang sedang terbang. Gerakan ini bermakna untuk mengusir hama penyakit agar tidak menyerang tanaman padi.

Secara umum, gerakan tarian ini mengandung makna memutar ke kiri untuk membuang sial dan memutar ke kanan untuk mengambil kebaikan.

Sumber :

  • http://budayaaljannah.blogspot.com/2014/10/tari-hudoq-dari-kalimantan-timur.html
  • http://dunialain-laindunia.blogspot.com/

Kuda Lumping / Jatilan / Jaranan (Kesenian Tradisional Suku Jawa)



Kilas Sejarah : Awalnya, menurut sejarah, seni kuda lumping lahir sebagai simbolisasi bahwa rakyat juga memiliki kemampuan (kedigdayaan) dalam menghadapi musuh ataupun melawan kekuatan elite kerajaan yang memiliki bala tentara. Di samping, juga sebagai media menghadirkan hiburan yang murah-meriah namun fenomenal kepada rakyat banyak. 

Di atas adalah salah satu bait lagu dangdut milik Rhoma Irama yang terinspirasi dari permainan kesenian rakyat, tari kuda lumping, yang hingga kini masih tumbuh berkembang di banyak kelompok masyarakat di nusantara. Tarian tradisional yang dimainkan secara ”tidak berpola” oleh rakyat kebanyakan tersebut telah lahir dan digemari masyarakat, khususnya di Jawa, sejak adanya kerajaan-kerajaan kuno tempo doeloe.

Kini, kesenian kuda lumping masih menjadi sebuah pertunjukan yang cukup membuat hati para penontonnya terpikat. Walaupun peninggalan budaya ini keberadaannya mulai bersaing ketat oleh masuknya budaya dan kesenian asing ke tanah air, tarian tersebut masih memperlihatkan daya tarik yang tinggi. Hingga saat ini, kita tidak tahu siapa atau kelompok masyarakat mana yang mencetuskan (menciptakan) kuda lumping pertama kali. Faktanya, kesenian kuda lumping dijumpai di banyak daerah dan masing-masing mengakui kesenian ini sebagai salah satu budaya tradisional mereka. Termasuk, disinyalir beberapa waktu lalu, diakui juga oleh pihak masyarakat Johor di Malaysia sebagai miliknya di samping Reog Ponorogo. Fenomena mewabahnya seni kuda lumping di berbagai tempat, dengan berbagai ragam dan coraknya, dapat menjadi indikator bahwa seni budaya yang terkesan penuh magis ini kembali ”naik daun” sebagai sebuah seni budaya yang patut diperhatikan sebagai kesenian asli Indonesia.

Dipecut, Makan Beling ( pecahan kaca / cermin / gelas / piring dll ) dan Semburan Api, Entah hal apa yang bisa membuat para pemainnya ini seperti orang kesurupan. Dilihat dari cara permainannya, para penari kuda lumping seperti mempunyai kekuatan maha besar, bahkan terkesan memiliki kekuatan supranatural. Kesenian tari yang menggunakan kuda bohong-bohongan terbuat dari anyaman bambu serta diiringi oleh musik gamelan seperti; gong, kenong, kendang dan slompret ini, ternyata mampu membuat para penonton terkesima oleh setiap atraksi-atraksi penunggan (penari) kuda lumping. Hebatnya, penari kuda lumping tradisional yang asli umumnya diperankan oleh anak putri yang berpakaian lelaki bak prajurit kerajaan. Saat ini, pemain kuda lumping lebih banyak dilakoni oleh anak lelaki.

Bunyi sebuah pecutan (cambuk) besar yang sengaja dikenakan para pemain kesenian ini, menjadi awal permainan dan masuknya kekuatan mistis yang bisa menghilangkan kesadaran si-pemain. Dengan menaiki kuda dari anyaman bambu tersebut, penunggan kuda yang pergelangan kakinya diberi kerincingan ini pun mulai berjingkrak-jingkrak, melompat-lompat hingga berguling-guling di tanah. Selain melompat-lompat, penari kuda lumping pun melakukan atraksi lainnya, seperti memakan beling dan mengupas sabut kelapa dengan giginya. Beling (kaca) yang dimakan adalah bohlam lampu yang biasa sebagai penerang rumah kita. Lahapnya ia memakan beling seperti layaknya orang kelaparan, tidak meringis kesakitan dan tidak ada darah pada saat ia menyantap beling-beling tersebut.

Jika dilihat dari keseluruhan permainan kuda lumping, bunyi pecutan yang tiada henti mendominasi rangkaian atraksi yang ditampilkan. Agaknya, setiap pecutan yang dilakukan oleh sipenunggang terhadap dirinya sendiri, yang mengenai kaki atau bagian tubuhnya yang lain, akan memberikan efek magis. Artinya, ketika lecutan anyaman rotan panjang diayunkan dan mengenai kaki dan tubuhnya, si penari kuda lumping akan merasa semakin kuat, semakin perkasa, semakin digdaya. Umumnya, dalam kondisi itu, ia kan semakin liar dan kuasa melakukan hal-hal muskil dan tidak masuk diakal sehat manusia normal.

Semarak dan kemeriahan permainan kuda lumping menjadi lebih lengkap dengan ditampilkannya atraksi semburan api. Semburan api yang keluar dari mulut para pemain lainnya, diawali dengan menampung bensin di dalam mulut mereka lalu disemburkan pada sebuah api yang menyala pada setangkai besi kecil yang ujungnya dibuat sedemikian rupa agar api tidak mati sebelum dan sesudah bensin itu disemburkan dari mulutnya. Pada permainan kuda lumping, makna lain yang terkandung adalah warna. Adapun warna yang sangat dominan pada permaian ini yaitu; merah, putih dan hitam. Warna merah melambangkan sebuah keberanian serta semangat. Warna putih melambangkan kesucian yang ada didalam hati juga pikiran yang dapat mereflesikan semua panca indera sehingga dapat dijadikan sebagai panutan warna hitam.

Sebagai sebuah atraksi penuh mistis dan berbahaya, tarian kuda lumping dilakukan di bawah pengawasan seorang ”pimpinan supranatural”. Biasanya, pimpinan ini adalah seorang yang memiliki ilmu ghaib yang tinggi yang dapat mengembalikan sang penari kembali ke kesadaran seperti sedia kala. Dia juga bertanggung-jawab terhadap jalannya atraksi, serta menyembuhkan sakit yang dialami oleh pemain kuda lumping jika terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkan dan menimbulkan sakit atau luka pada si penari. Oleh karena itu, walaupun dianggap sebagai permainan rakyat, kuda lumping tidak dapat dimainkan oleh sembarang orang, tetapi harus di bawah petunjuk dan pengawasan sang pimpinannya.

- Perlu Terus Dipelihara dan Dikembangkan

Secara garis besar, begitu banyak kesenian serta kebudayaan yang ada di Indonesia diwariskan secara turun-menurun dari nenek moyang bangsa Indonesia hingga ke generasi saat ini. Sekarang, kita sebagai penerus bangsa merupakan pewaris dari seni budaya tradisional yang sudah semestinya menjaga dan memeliharanya dengan baik. Tugas kita adalah mempertahankan dan mengembangkannya, agar dari hari ke hari tidak pupus dan hilang dari khasanah berkesenian masyarakat kita.

Satu hal yang harus kita waspadai bahwa Indonesia masih terus dijajah hingga sekarang dengan masuknya kebudayaan asing yang mencoba menyingkirkan kebudayaan-kebudayaan lokal. Oleh karena itu, kita sebagai generasi penerus bangsa bangkitlah bersama untuk mengembalikan kembali kebudayaan yang sejak dahulu ada dan jangan sampai punah ditelan zaman modern ini. Untuk itu, kepada Pemerintah dan masyarakat diharapkan agar secara terus-menerus menelurusi kembali kebudayaan apa yang hingga saat ini hampir tidak terdengar lagi, untuk kemudian dikembangkan dan dilestarikan kembali nilai-nilai kebudayaan Indonesia.
pada segmen Buto lawas inilah biasanya penari akan mulai kesurupan dan bahkan para penontonnya sekalian.Tari Buto lawas ditarikan oleh para pria saja dan terdiri dari 4 sampai 6 orang penari.

- Properti yang biasanya dipakai dalam tari kuda lumping

  • Kuda boongan dari anyaman bambu.
  • Celeng (babi hutan boongan dari anyaman bambu.
  • Barongan (caplokan) Bentuk kepala Naga yang seram terbuat dari kayu dengan berat sekitar 15 kilograman.


- Alat musik yang dipakai 

Lebih sederhana dari seni karawitan,hanya terdiri dari kendang,gong,gamelan pelog,kenong dan selompret(terompet khas kuda lumping).Tetapi ada juga grup kesenian kuda lumping ini lebih memoderenisasi peralatan musik mereka seperti menambahkan Drum, gitar elektrik dan bass elektrik dikarenakan mereka ingin menampilkan kualitas yang bagus sekalian sound musiknya juga.

Sumber :

  • https://kluwan.wordpress.com/2009/01/15/1305/


Jumat, 01 Mei 2015

Tari Serampang dua Belas (Tari Tradisional Suku Melayu Kesultanan Serdang, Sumatera Utara)

TARI SERAMPANG DUA BELAS
"Tari Serampang Duabelas merupakan tarian tradisional Melayu yang berkembang di bawah Kesultanan Serdang. Tarian ini diciptakan oleh Sauti pada tahun 1940-an dan diubah ulang oleh penciptannya antara tahun 1950-1960. sebelum bernama Serampang Duabelas, tarian ini bernama Tari Pulau Sari, sesuai dengan judul lagu yang mengiringi tarian ini, yaitu lagu Pulau Sari."



Kilas Sejarah : Tari Serampang dua Belas merupakan tari pergaulan dikalangan muda mudi melayu. Tarian ini  berkisah  tentang cinta suci dua anak manusia yang muncul sejak pandangan pertama dan  diakhiri dengan pernikahan yang direstui oleh kedua orang tua sang dara dan teruna.  Oleh karena menceritakan proses bertemunya dua hati tersebut, maka tarian ini biasanya  dimainkan secara berpasangan, laki-laki dan perempuan. Serampang Duabelas  tidak hanya berkembang dan dikenal oleh masyarakat di wilayah  Kesultanan Serdang, tetapi juga menyebar ke berbagai daerah di  Indonesia, seperti Riau, Jambi, Kalimantan, Sulawesi, bahkan sampai ke  Maluku. Bahkan, tarian ini sering dipentaskan di manca negara, seperti Singapura dan  Hongkong.


Sumber :
  • http://mazmuzie.blogspot.com/2014/05/tari-serampang-dua-belas.html
  • http://melayuonline.com/ind/culture/dig/2319/serampang-duabelas-tari-tradisional-melayu-kesultanan-serdang-sumatra-utara

Tari Belian Bawo (Tari Tradisional Suku Dayak - Kalimantan Tengah)

TARI BELIAN BAWO
Tari Belian Bawo merupakan tari yang berasal dari Barito Selatan,Kalimantan Tengah, Dalam video ini ditampilkan pada saat resepsi pemberkatan salah satu gedung di Palangkaraya 9 MEI 2009


Sinopsis :  Upacara Belian Bawo bertujuan untuk menolak penyakit, mengobati orang sakit, membayar nazar dan lain sebagainya. Seiring perkembangannya, tarian ini sering disajikan pada acara-acara kesenian lainnya. Tarian ini merupakan tarian dari suku Dayak Benuaq.


Sumber :
  • http://makalah-perpustakaan.blogspot.com/2013/04/artikel-tari-dayak.html

Selasa, 28 April 2015

Jepin Simpang (Tari Tradisional Suku Melayu Pontianak - Kalimantan Barat)

TARI JEPIN SIMPANG





Tari Jepin Tali Bui (Tari Tradisional Suku Melayu Pontianak - Kalimantan Barat)

TARI JEPIN TALI BUI
“Tari ini merupakan tari trasidional etnis Melayu Kalimantan Barat, berasal dari Kota Pontianak,  tepatnya di Kelurahan Batu Layang Kecamatan Pontianak Utara, hasil galian dan kreasi Juhermi Thahir. Ditarikan oleh mahasiswi parodi FKIP-UNTAN”



Sinopsis : TARI JEPIN TALI BUI di dalam sajiannya mengungkapkan tentang sifat atau prilaku manusia, digambarkan pada ikatan persaudaraan serta kearifan dan ketulusan meminta dan memberi maaf. Meminta dan memberi maaf atas segala khilaf dan kesalahan yang telah dilakukan atas ketidaksempurnaan manusia dalam menuju kesempurnaan,  sebagai makhluk ciptaan Tuhan Yang Maha Esa.
Tari Jepin Tali Bui mengisahkan 7 putri bersaudara kandung.  Si bungsu memiliki perilaku yang baik dan berbudi luhur, sehingga disayangi seluruh anak negeri (masyarakat), berbanding terbalik dengan 6 saudaranya yang lain.
Perasaan iri dan dengki tumbuh pada 6 saudaranya kepada si bungsu, sehingga mereka bersiasat untuk mencelakai adik bungsunya dengan mengajaknya bermain.
Si bungsu  tanpa rasa curiga menerima ajakan bermain saudaranya, sampai pada akhirnya dia tersadar bahwa saudara-saudaranya ingin mencelakainya dengan mengikat  (membui) seluruh tubuhnya.
Ibarat  air ditetak tidak akan putus, hubungan persaudaraan menyadarkan saudara-saudaranya akan perbuatan salah yang telah dilakukan. Bahwa manusia karena hubungan persaudaraan tentu tidak selamanya berlaku jahat, ada kesinambungan untuk selalu memaafkan karena sebenarnya manusia didunia adalah bersaudara. 

Sumber :

  • http://borneonusantaratime.com/2014/03/tari-jepin-tali-bui-kreasi-juhermi-thahir-yang-akan-dibawa-ke-prancis-tari-ini-merupakan-tari-trasidional-etnis-melayu-kalimantan-barat-berasal-dari-kota-pontianak-tepatnya-di-kelurahan-ba/

Jepin Tali Bintang (Tari Tradisional suku Melayu Pontianak - Kalimantan Barat)

TARI JEPIN TALI BINTANG

Disebut Jepin Tali Bintang,karena Jepin ini menggunakan tali yang dibentuk dan dibuat sedemikian rupa yang digantung di langit-langit dalam sebuah miniatur atau replika berbentuk Bintang.

Para penari akan menganyam atau mengepang Tali tersebut seiring dengan alunan tabuhan musik kemudian akan melepaskan anyaman atau kepangan tersebut hingga tali tersebut terurai kembali.

Jepin Tali Bintang sendiri merupakan tari berasal dari kerajaan Kubu yang hampir mengalami kepunahan. Tari ini mulai berkemabang di masa jayanya pada tahun 1930-1980 di Mempawah atau Kabupaten Pontianak oleh Pak Buyung yang kemudian di tahun 2010 dikembalikan dan dikembangkan oleh Prodi Seni Universitas Tanjungpura sebagai materi perkuliahan.



Sinopsis : TARI JEPIN TALI BINTANG mengisahkan rasa syukur dan gembira kepada Nabi Muhammad SAW dan atas Kebesaran Allah Yang Maha Esa yang memberikan rizki dan nikmat tiada terhitung layaknya jutaan bintang yang tidak terhitung manusia.

Jepin Tali Bintang mengambarkan rasa kebersamaan, kekompakan sesama insan sehingga menjadi satu kesatuan yang tidak mudah terputus oleh suatu apapun.


Sumber :
  • http://www.artiirhamna.com/2013/11/jepin-tali-bintang.html

home