Anti Copas

Rabu, 06 April 2016

Kledik / Korondek (Alat Musik Tradisional Suku Dayak - Kalimantan Barat)






Kledik adalah alat musik tradisional yang terdapat di daerah kebupaten Sintang. Alat musik ini terbuat dari bilah bambu yang merupakan alat musik tiup. Sebenarnya untuk memainkan alat musik ini tidak hanya ditiup, namun sekaligus dihisap dan ditiup. Oleh masyarakat rumpun Uut Danum alat ini juga disebut dengan nama Korondek. Alat musik ini dapat dimainkan dengan cara ditiup pada bagian lubang pada buah labu, buah labu sebagai sumber suara dibentuk sedemikian rupa, berbentuk melengkung dengan lubang yang telah dibentuk pula, kemudian disambnng dengan bambu yang jumlahnya sebanyak enam buah pula sebagai pengatur nada dengan menggunakan kedua jari pada tangan kiri dan kanan untuk mengatur tiupan dan nada.




Kledik ini peniupnya berwarna coklat tua sesuai dengan warna labu yang sudah tua, sedangkan warna bambu sebagai pengatur suara tetap kuning seperti warna bambunya, yang kekuning-kuningan. Ragam hiasnya tidak ada dan tetap berbentuk polos seperti bahan untuk membuatnya.
Kledik mempunyai makna yang sangat penting dalam upacara tradisional, misalnya setelah selesai panen padi. Alat musik ini biasanya digunakan sebagai pengiring teater tutur. Teater tutur ini disebut Beduha, Jandeh, Kana, Bejali. Pada pertemuan itu orang-orang sering berbalas pantun atau mengucapkan mantera-mantera dalam kepercayaan animisme. Walaupun demikian alat ini tidak terikat oleh upacara dan dapat digunakan kapan saja untuk hiburan.

  • Sumber : http://dunia-kesenian.blogspot.com/2014/11/pengertian-alat-musik-kledi-Keledi-kaldei.html
  • https://www.youtube.com/watch?v=Vie8NbdUa-I

Selasa, 02 Juni 2015

Gamelan (Alat Musik Tradisional Jawa)


Kilas Sejarah : Gamelan adalah ensembel musik yang biasanya menonjolkan metalofon, gambang, gendang, dan gong. Istilah gamelan merujuk pada instrumennya / alatnya, yang mana merupakan satu kesatuan utuh yang diwujudkan dan dibunyikan bersama. Kata Gamelan sendiri berasal dari bahasa Jawa gamel yang berarti memukul / menabuh, diikuti akhiran an yang menjadikannya kata benda. Orkes gamelan kebanyakan terdapat di pulau Jawa, Madura, Bali, dan Lombok di Indonesia dalam berbagai jenis ukuran dan bentuk ensembel. Di Bali dan Lombok saat ini, dan di Jawa lewat abad ke-18, istilah gong lebih dianggap sinonim dengan gamelan.

Kemunculan gamelan didahului dengan budaya Hindu-Budha yang mendominasi Indonesia pada awal masa pencatatan sejarah, yang juga mewakili seni asli indonesia. Instrumennya dikembangkan hingga bentuknya sampai seperti sekarang ini pada zaman Kerajaan Majapahit. Dalam perbedaannya dengan musik India, satu-satunya dampak ke-India-an dalam musik gamelan adalah bagaimana cara menyanikannya. Dalam mitologi Jawa, gamelan dicipatakan oleh Sang Hyang Guru pada Era Saka, dewa yang menguasai seluruh tanah Jawa, dengan istana di gunung Mahendra di Medangkamulan (sekarang Gunung Lawu). Sang Hyang Guru pertama-tama menciptakan gong untuk memanggil para dewa. Untuk pesan yang lebih spesifik kemudian menciptakan dua gong, lalu akhirnya terbentuk set gamelan.

Gambaran tentang alat musik ensembel pertama ditemukan di Candi Borobudur, Magelang Jawa Tengah, yang telah berdiri sejak abad ke-8. Alat musik semisal suling bambu, lonceng, kendhang dalam berbagai ukuran, kecapi, alat musik berdawai yang digesek dan dipetik, ditemukan dalam relief tersebut. Namun, sedikit ditemukan elemen alat musik logamnya. Bagaimanapun, relief tentang alat musik tersebut dikatakan sebagai asal mula gamelan.

Musik Gamelan merupakan gabungan pengaruh seni luar negeri yang beraneka ragam. Kaitan not nada dari Cina, instrumen musik dari Asia Tenggara, drum band dan gerakkan musik dari India, bowed string dari daerah Timur Tengah, bahkan style militer Eropa yang kita dengar pada musik tradisional Jawa dan Bali sekarang ini.

Interaksi komponen yang sarat dengan melodi, irama dan warna suara mempertahankan kejayaan musik orkes gamelan Bali. Pilar-pilar musik ini menyatukan berbagai karakter komunitas pedesaan Bali yang menjadi tatanan musik khas yang merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan sehari-hari.

Awalnya, alat musik instrumen gamelan dibuat berdasarkan relief yang ada dalam Candi Borobudur pada abad ke-8. Dalam relief di candi tersebut, terdapat beberapa alat musik yang terdiri dari kendang, suling bambu, kecapi, dawai yang digesek dan dipetik, serta lonceng. 

Sejak itu, alat musik tersebut dijadikan sebagai alat musik dalam alunan musik gamelan jawa. Alat musik yang terdapat di relief Candi Borobudur tersebut digunakan untuk memainkan gamelan. Pada masa pengaruh budaya Hindu-Budha berkembang di Kerajaan Majapahit, gamelan diperkenalkan pada masyarakat Jawa di Kerajaan Majapahit.




Konon, menurut kepercayaan orang Jawa, gamelan itu sendiri diciptakan oleh Sang Hyang Guru Era Saka, sebagai dewa yang dulu menguasai seluruh tanah Jawa. Sang dewa inilah yang menciptakan alat musik gong, yang digunakan untuk memanggil para dewa. 
Alunan musik gamelan jawa di daerah Jawa sendiri disebut karawitan. Karawitan adalah istilah yang digunakan untuk menyebutkan alunan musik gamelan yang halus. Seni karawitan yang menggunakan instrumen gamelan terdapat pada seni tari dan seni suara khas Jawa, yaitu sebagai berikut. 

1. Seni suara terdiri dari sinden, bawa, gerong, sendon, dan celuk.
2. Seni pedalangan terdiri dari wayang kulit, wayang golek, wayang gedog, wayang klithik, wayang beber, wayang suluh, dan wayang wahyu. 
3. Seni tari terdiri dari tari srimpi, bedayan, golek, wireng, dan tari pethilan. 

Seni gamelan Jawa tidak hanya dimainkan untuk mengiringi seni suara, seni tari, dan atraksi wayang. Saat diadakan acara resmi kerajaan di keraton, digunakan alunan musik gamelan sebagai pengiring. Terutama, jika ada anggota keraton yang melangsungkan pernikahan tradisi Jawa. Masyarakat Jawa pun menggunakan alunan musik gamelan ketika mengadakan resepsi pernikahan.

Gamelan adalah produk budaya untuk memenuhi kebutuhan manusia akan kesenian. Kesenian merupakan salah satu unsur budaya yang bersifat universal. Ini berarti bahwa setiap bangsa dipastikan memiliki kesenian, namun wujudnya berbeda antara bangsa yang satu dengan bangsa yang lain. Apabila antar bangsa terjadi kontak budaya maka keseniannya pun juga ikut berkontak sehingga dapat terjadi satu bangsa akan menyerap atau mengarn bila unsur seni dari bangsa lain disesuaikan dengan kondisi seternpat. Oleh karena itu sejak keberadaan gamelan sampai sekarang telah terjadi perubahan dan perkembangan, khususnya dalam kelengkapan ansambelnya.

Istilah “karawitan” yang digunakan untuk merujuk pada kesenian gamelan banyak dipakai oleh kalangan masyarakat Jawa. Istilah tersebut mengalami perkembangan penggunaan maupun pemaknaannya. Banyak orang memaknai “karawitan” berangkat dari kata dasar “rawit” yang berarti kecil, halus atau rumit. Konon, di lingkungan kraton Surakarta, istilah karawitan pernah juga digunakan sebagai payung dari beberapa cabang kesenian seperti: tatah sungging, ukir, tari, hingga pedhalangan (Supanggah, 2002:5¬6).

Dalarn pengertian yang sempit istilah karawitan dipakai untuk menyebut suatu jenis seni suara atau musik yang mengandung salah satu atau kedua unsur berikut (Supanggah, 2002:12):
(1) menggunakan alat musik gamelan – sebagian atau seluruhnya baik berlaras slendro atau pelog – sebagian atau semuanya.
(2) menggunakan laras (tangga nada slendro) dan / atau pelog baik instrumental gamelan atau non-gamelan maupun vocal atau carnpuran dari keduanya.

Gamelan Jawa sekarang ini bukan hanya dikenal di Indonesia saja, bahkan telah berkembang di luar negeri seperti di Amerika Serikat, Inggris, Jepang, Canada. Karawitan telah ‘mendunia’. Oleh karna itu cukup ironis apabila bangsa Jawa sebagai pewaris langsung malahan tidak mau peduli terhadap seni gamelan atau seni karawitan pada khususnya atau kebudayaan Jawa pada umumnya. Bangsa lain begitu tekunnya mempelajari gamelan Jawa, bahkan di beberapa negara memiliki seperangkat gamelan Jawa. Sudah selayaknya masyarakat Jawa menghargai karya agung nenek moyang sendiri.
Sumber data tentang gamelan

Kebudayaan Jawa setelah masa prasejarah memasuki era baru yaitu suatu masa ketika kebudayaan dari luar -dalam hal ini kebudayaan India- mulai berpengaruh. Kebudayaan Jawa mulai memasuki jaman sejarah yang ditandai dengan adanya sistem tulisan dalam kehidupan masyarakat. Dilihat dari perspektif historis selama kurun waktu antara abad VIll sampai abad XV Masehi kebudayaan Jawa, mendapat pengayaan unsur-unsur kebudayaan India. Tampaknya unsur-unsur budaya India juga dapat dilihat pada kesenian seperti gamelan dan seni tari. Transformasi budaya musik ke Jawa melalui jalur agama Hindu-Budha.

gamelan_band2Data-data tentang keberadaan gamelan ditemukan di dalam sumber verbal yakni sumber – sumber tertulis yang berupa prasasti dan kitab-kitab kesusastraan yang berasal dari masa Hindu-Budha dan sumber piktorial berupa relief yang dipahatkan pada bangunan candi baik pada candi-candi yang berasal dari masa klasik Jawa Tengah (abad ke-7 sampai abad ke-10) dan candi-candi yang berasal dari masa klasik Jawa Timur yang lebih muda (abad ke-11 sampai abad ke¬15) (Haryono, 1985). Dalam sumber-sumber tertulis masa Jawa Timur kelompok ansambel gamelan dikatakan sebagai “tabeh – tabehan” (bahasa Jawa baru ‘tabuh-tabuhan’ atau ‘tetabuhan’ yang berarti segala sesuatu yang ditabuh atau dibunyikan dengan dipukul). Zoetmulder menjelaskan kata “gamèl” dengan alat musik perkusi yakni alat musik yang dipukul (1982). Dalam bahasa Jawa ada kata “gèmbèl” yang berarti ‘alat pemukul’. Dalam bahasa Bali ada istilah ‘gambèlan’ yang kemudian mungkin menjadi istilah ‘gamelan’. Istilah ‘gamelan’ telah disebut dalam kaitannya dengan musik. Namur dalam masa Kadiri (sekitar abad ke¬13 Masehi), seorang ahli musik Judith Becker malahan mengatakan bahwa kata ‘gamelan’ berasal dari nama seorang pendeta Burma dan seorang ahli besi bernama Gumlao. Kalau pendapat Becker ini benar adanya, tentunya istilah ‘gamelan’ dijumpai juga di Burma atau di beberapa daerah di Asia Tenggara daratan, namun ternyata tidak.
Gambaran instrument gamelan pada relief candi

Pada beberapa bagian dinding candi Borobudur dapat 17 dilihat jenis-jenis instrumen gamelan yaitu: kendang bertali yang dikalungkan di leher, kendang berbentuk seperti periuk, siter dan kecapi, simbal, suling, saron, gambang. Pada candi Lara Jonggrang (Prambanan) dapat dilihat gambar relief kendang silindris, kendang cembung, kendang bentuk periuk, simbal (kècèr), dan suling.

Gambar relief instrumen gamelan di candi-candi masa Jawa Timur dapat dijumpai pada candi Jago (abad ke -13 M) berupa alat musik petik: kecapi berleher panjang dan celempung. Sedangkan pada candi Ngrimbi (abad ke – 13 M) ada relief reyong (dua buah bonang pencon). Sementara itu relief gong besar dijumpai di candi Kedaton (abad ke-14 M), dan kendang silindris di candi Tegawangi (abad ke-14 M). Pada candi induk Panataran (abad ke-14 M) ada relief gong, bendhe, kemanak, kendang sejenis tambur; dan di pandapa teras relief gambang, reyong, serta simbal. Relief bendhe dan terompet ada pada candi Sukuh (abad ke-15 M).

Berdasarkan data-data pada relief dan kitab-kitab kesusastraan diperoleh petunjuk bahwa paling tidak ada pengaruh India terhadap keberadaan beberapa jenis gamelan Jawa. Keberadaan musik di India sangat erat dengan aktivitas keagamaan. Musik merupakan salah satu unsur penting dalam upacara keagamaan (Koentjaraningrat, 1985:42-45). Di dalam beberapa kitab-kitab kesastraan India seperti kitab Natya Sastra seni musik dan seni tari berfungsi untuk aktivitas upacara. keagamaan (Vatsyayan, 1968). Secara keseluruhan kelompok musik di India disebut ‘vaditra’ yang dikelompokkan menjadi 5 kelas, yakni: tata (instrumen musik gesek), begat (instrumen musik petik), sushira (instrumen musik tiup), dhola (kendang), ghana (instrumen musik pukul). Pengelompokan yang lain adalah:

(1) Avanaddha vadya, bunyi yang dihasilkan oleh getaran selaput kulit karena dipukul.
(2) Ghana vadya, bunyi dihasilkan oleh getaran alat musik itu sendiri.
(3) Sushira vadya, bunyi dihasilkan oleh getaran udara dengan ditiup.
(4) Tata vadya, bunyi dihasilkan oleh getaran dawai yang dipetik atau digesek.

Klasifikasi tersebut dapat disamakan dengan membranofon (Avanaddha vadya), ideofon (Ghana vadya), aerofon (sushira vadya), kordofon (tata vadya). Irama musik di India disebut “laya” dibakukan dengan menggunakan pola ‘tala’ yang dilakukan dengan kendang. Irama tersebut dikelompokkan menjadi: druta (cepat), madhya (sedang), dan vilambita (lamban).




Gamelan Jawa adalah ensembel musik yang biasanya menonjolkan metalofon, gambang, gendang, dan gong. Musik yang tercipta pada Gamelan Jawa berasal dari paduan bunyi gong, kenong dan alat musik Jawa lainnya. Irama musik umumnya lembut dan mencerminkan keselarasan hidup, sebagaimana prinsip hidup yang dianut pada umumnya oleh masyarakat Jawa.

Gamelan Jawa terdiri atas instrumen berikut:
  • Kendang
  • Bonang
  • Bonang Penerus
  • Demung
  • Saron
  • Peking (Gamelan)
  • Kenong &Kethuk
  • Slenthem
  • Gender
  • Gong
  • Gambang
  • Rebab
  • Siter
  • Suling
  • Kempul
KataGamelan sendiri berasal dari bahasa Jawa gamel yang berarti memukul / menabuh, diikuti akhiran an yang menjadikannya sebagai kata benda. Sedangkan istilahgamelan mempunyai arti sebagai satu kesatuan alat musik yang dimainkan bersama.

Tidak ada kejelasan tentang sejarah terciptanya alat musik ini. Tetapi, gamelan diperkirakan lahir pada saat budaya luar dari Hindu Budha mendominasi Indonesia. Walaupun pada perkembangannya ada perbedaan dengan musik India, tetap ada beberapa ciri yang tidak hilang, salah satunya adalah cara menyanyikan lagunya. Penyanyi pria biasa disebut sebagaiwiraswara dan penyanyi wanita disebutwaranggana.

Menurut mitologi Jawa, gamelan diciptakan oleh Sang Hyang Guru pada Era Saka. Beliau adalah dewa yang menguasai seluruh tanah Jawa, dengan istana yang berada di gunung Mahendra di daerah Medangkamulan (sekarang Gunung Lawu).

Alat musik gamelan yang pertama kali diciptakan adalah gong, yang digunakan untuk memanggil para dewa. Setelah itu, untuk menyampaikan pesan khusus, Sang Hyang Guru kembali menciptakan beberapa peralatan lain seperti dua gong, sampai akhirnya terbentuklah seperangkat gamelan.
Pada jaman Majapahit, alat musik gamelan mengalami perkembangan yang sangat baik hingga mencapai bentuk seperti sekarang ini dan tersebar di beberapa daerah seperti Bali, dan Sunda (Jawa Barat).

Bukti otentik pertama tentang keberadaangamelan ditemukan di Candi Borobudur, Magelang Jawa Tengah yang berdiri sejak abad ke-8. Padarelief-nya terlihat beberapa peralatan seperti suling bambu, lonceng, kendhang dalam berbagai ukuran, kecapi, alat musik berdawai yang digesek dan dipetik, termasuk sedikit gambaran tentang elemen alat musik logam. Perkembangan selanjutnya, gamelan dipakai untuk mengiringi pagelaranwayang dantarian. Sampai akhirnya berdiri sebagai musik sendiri dan dilengkapi dengan suara parasinden.

Gamelan yang berkembang di Jawa Tengah, sedikit berbeda dengan Gamelan Bali ataupun Gamelan Sunda. Gamelan Jawa memiliki nada yang lebih lembut apabila dibandingkan dengan Gamelan Bali yang rancak serta Gamelan Sunda yang mendayu-dayu dan didominasi suara seruling. Menurut beberapa penelitian, perbedaan itu adalah akibat dari pengungkapan terhadap pandangan hidup orang jawa pada umumnya.

Pandangan yang dimaksud adalah : sebagai orang jawa harus selalumemelihara keselarasan kehidupan jasmani dan rohani, serta keselarasan dalam berbicara dan bertindak. Oleh sebab itu, orang jawa selalu menghindari ekspresi yang meledak-ledak serta selalu berusaha mewujudkan toleransi antar sesama. Wujud paling nyata dalam musik gamelan adalah tarikan tali rebab yang sedang, paduan seimbang bunyi kenong, saron kendang dan gambang serta suara gong pada setiap penutup irama.

Penalaan dan pembuatan orkes gamelan adalah suatu proses yang sangat kompleks. Gamelan menggunakan empat cara penalaan, yaitu slndro,plog, Degung (khusus daerah Sunda, atau Jawa Barat), dan madenda (juga dikenal sebagai diatonis), sama seperti skala minor asli yang banyak dipakai di Eropa.

Slendro memiliki5 nada per oktaf, yaitu :1 2 3 5 6 [C- D E+ G A] dengan perbedaan interval kecil.
Pelog memiliki7 nada per oktaf, yaitu :1 2 3 4 5 6 7 [C+ D E- F# G# A B] dengan perbedaan interval yang besar.

Komposisi musik gamelan diciptakan dengan beberapa aturan, yang terdiri dari beberapa putaran danpathet, dibatasi oleh satugongan serta melodinya diciptakan dalam unit yang terdiri dari 4 nada.
Gamelan Jawa merupakan seperangkat instrumen sebagai pernyataan musikal yang sering disebut dengan istilah karawitan. Karawitan berasal dari bahasa Jawa rawit yang berarti rumit, berbelit-belit, tetapi rawit juga berarti halus, cantik, berliku-liku dan enak. Kata Jawa karawitan khususnya dipakai untuk mengacu kepada musik gamelan, musik Indonesia yang bersistem nada non diatonis (dalam laras slendro dan pelog) yang garapan-garapannya menggunakan sistem notasi, warna suara, ritme, memiliki fungsi, pathet dan aturan garap dalam bentuk sajian instrumentalia, vokalia dan campuran yang indah didengar.

Gamelan yang lengkap mempunyai kira-kira 72 alat dan dapat dimainkan oleh niyaga (penabuh) dengan disertai 10 15 pesinden dan atau gerong. Susunannya terutama terdiri dari alat-alat pukul atau tetabuhan yang terbuat dari logam. Alat-alat lainnya berupa kendang, rebab (alat gesek), gambang yaitu sejenis xylophon dengan bilah-bilahnya dari kayu, dan alat berdawai kawat yang dipetik bernama siter atau celepung.
Secara filosofis gamelan Jawa merupakan satu bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Jawa. Hal demikian disebabkan filsafat hidup masyarakat Jawa berkaitan dengan seni budayanya yang berupa gamelan Jawa serta berhubungan erat dengan perkembangan religi yang dianutnya.

Pada umumnya alat-alat musik yang terdapat dalam perangkat Gamelan terdiri dari:

1.Counter-Melody, adalah alat-alat musik yang terdiri atas:

Gambang, adalahalat yangmenyerupai instrument metallophone, tetapibilah-bilahnyaterbuat dari kayu atau tembaga.
Suling, adalah alat musik tiup yang biasanya terbuat dari bambu. Dibedakan atas dua tipe: 1)suling dengan lima lubang (finger-holes) untuk laras Pelog; 2) suling dengan empat lubanguntuk laras slendro
Rebab, adalah alat musik gesek yang dapat menghasilkan suara cukup keras
Siter atau Celempung, adalah alat petik sejenis gitar tetapi memiliki senar yang lebih banyak.

2. Drum terdiri atas:

Bedug, adalah alat musik tabuh yang terbuat dari sepotong batang kayu besar yang telahdilubangi bagian tengahnya sehingga menyerupai tabung besar. Pada ujung batang yangberukuran besar ditutup dengan kulit binatang (biasanya kulit sapi, kerbau atau kambing).Bedug menimbulkan suara berat, rendah, tapi dapat didengar sampai jarak yang jauh.

Kendang, adalah alat musik tabuh menyerupai bedug tetapi memiliki ukuran yang lebih kecil.Kendang biasanya dimainkan oleh pemain gamelan profesional. Kendang dapat dibagimenjadi empat berdasarkan ukuran dari yang terbesar sampai yangterkecil: KendangGending, Kendang Wayangan, Kendang Ciblon, dan Kendang Ketipung.

3. Gong, terdiridari:

Gong yang digantung. Dapat dibedakan dalam dua jenis yaitu:
Gong Ageng, adalah gong terbesar dalam Gamelan Jawa dan dipercaya sebagairoh dalam Gamelan. Oleh karena itu, gong ini sangat dihormati. Biasanya GongAgeng ditempatkan di belakang Gamelan.
Kempul, adalah gong gantung yang memiliki ukuran lebih kecil dari Gong Ageng.
Gong yang diletakkan diatas tali yang direntangkan pada bingkai kayu (tempat yang terbuatdari kayu ini kadang disebut Rancakan). Dapat dibedakan dalam 4 (empat) jenis gong,yaitu:

1.Bonang, adalah satu set gong yang terdiri dari sepuluh sampai empat belas gong-gong kecil dengan posisi horizontal yang tersusun dalam dua deretan. Ada duamacam Bonang, yaitu:
*Bonang Barung, yaitu Bonang berukuran sedang, ber-oktaf tengah sampai tinggi.
*Bonang Panerus, yaitu Bonang berukuran kecil tetapi titinadanya lebih tinggisatu oktaf dibandingkan Bonang Barung.

2.Kenong, adalah gong terbesar yang diletakkan diatas tali yang direntangkan pada bingkaikayu. Dalam beberapa Gamelan, satu bingkai kayu dapat berisi 3 (tiga) Kenong.

3.Ketuk dan Kempyang, Adalah gong-gong yang diletakkan di sebelah Kenong. Ketuk dan Kempyang selalu ditempatkan dalam sebuah kotak kayu.

4.Metallophones, adalahalat-alat musik berbentuk bilahan/lempengan yang terdiri dari enam atau tujuh bilah, ditumpangkan pada bingkai kayu yang juga berfungsi sebagai resonator. Alat-alat musik ini dapat dibedakan menjadi2 (dua) jenis, yaitu:

a. Saron, terdiri atas:
Saron Demung, yaitu alat musik dengan bilahan paling besar dalam keluarga Sarondan menghasilkan nada rendah. Titi nada Saron Demung lebih rendah satu oktaf dibanding Saron Barung. Saron Demung juga dapat dibedakan dalam 2 (dua) tipe:Demung Slendro dan Demung Pelog.

Saron Barung. Dibandingkan dengan Saron Demung & Saron Panerus, SaronBarung memiliki bilahan logam menengah (medium). Titi nadanya satu oktaf lebihrendah dari Saron Panerus dan satu oktaf lebih tinggi dari Saron Demung. SaronBarung juga dapat dibedakan dalam 2 (dua) tipe: Barung Slendro dan Barung Pelog.

Saron Panerus atau seringkali disebut dengan julukan Peking. Ini merupakankeluarga Saron yang paling kecil. Dibandingkan Saron Barung, Saron Panerusmemiliki titi nada lebih tinggi satu oktaf. Saron Barung juga dapat dibedakan dalam 2(dua) tipe: Panerus Slendro dan Panerus Pelog

b. Gender,adalahalatmusikyangterdiridaribilah-bilah metal yang ditegangkandengantali.
Gender dapat dibedakan menjadi:

Slentem, adalah alat musik dengan bilah metal dan resonator terbesar dalamkeluarga gender. Biasanya Slentem memiliki tujuh bilah dan memiliki titinada satuoktaf dibawah Saron Demung
Gender, terdiri atas:

Gender Barung. Gender Barung memiliki bilah metal dengan ukuran sedangdalam keluarga Gender. Gender Barung memiliki titi nada satu oktaf lebihrendah dari Gender Panerus.
Gender Panerus. Gender Panerus memiliki bilah-bilah yang paling kecildalam keluarga Gender. Gender Panerus memiliki titi nada satuoktaf lebihtinggi daripada Gender Barung
Masing-masing darialat-alat musik (perangkat) tersebut diatas memiliki fungsi-fungsi khusus yang saling mengisi dan melengkapi sehingga menciptakan harmonisasi antara satu sama lain. Setiap alat musik sudah memiliki pakem yang tertuang dalam phatet (pembatasan wilayah nada).


Sumber :
  • http://id.wikipedia.org/wiki/Gamelan
  • http://nisyacin.blogdetik.com/2012/02/09/gamelan-jawa/
  • http://indodaya.blogspot.com/2013/02/sejarah-gamelan-jawa-dan-asal-usulnya.html
  • http://rinonakbatam.blogspot.com/2011/04/macam-macam-musik-tradisional-indonesia.html
  • https://milaazizah.wordpress.com/kesenian/sejarah-gamelan-jawa-dan-perkembangannya/

Gambus / Oud (Alat Musik Tradisional Timur Tengah)




Kilas Sejarah : Oud (Gambus) merupakan instrumen senar berbentuk saperti buah pir umum digunakan di dalam musik Timur Tengah dan Afrika Utara. Oud mudah dibedakan, yaitu tanpa frets dan neck yang pendek.

Oud (Gambus) menurut Farabi, diciptakan oleh Lamekh, cucu keenam Adam. Konon bahwa Lamekh sangat sedih karena  melihat anaknya yang mati tergantung di pohon. Oud pertama terinspirasi oleh bentuk kerangka tulang belakang anaknya tersebut.

Catatan bergambar Oud tertua berusia lebih dari 5000 tahun yang lalu (disimpan di Museum Inggris) berasal dari periode Uruk di Selatan Mesopotamia (sekarang kota Nasiriyah) menggambarkan seorang perempuan meringkuk dengan instrumennya pada perahu, bermain dengan tangan kanan. Instrumen ini muncul berkali-kali sepanjang sejarah Mesopotamia dan lagi di Mesir kuno dari dinasti ke-18Alat musik ini telah menjadi bagian instrument musik dari masing-masing peradaban kuno yang telah ada di Mediterania dan Timur Tengah, termasuk Sumeria, Akkadians, Persia, Kurdi, Babilonia, Assyria, Armenia, Yahudi, Yunani , Mesir, dan Roma.




Oud sekarang benar-benar berbeda dari prototipe tuanya, Oud Turki berbeda dari Oud Arab dalam gaya bermain dan bentuk. Oud Turki berasal dari modifikasi Oud Arab. Perkembangannya terkait oleh Manolis Venios, seorang pemain Oud Yunani terkenal yang tinggal di Istanbul pada akhir abad 19 dan awal ke-20. Musisi Yunani dan Armenia menggunakan sistem nada Oud Turki.

Oud memiliki kisah  panjang di Irak, dikatakan bahwa dalam musik itu terletak jiwa negara. Seorang ahli hukum Baghdad abad ke-9 berbicara tentang kekuatan dari alat musik, dan penulis abad ke-19 Muhammad Shihab al-Din mengatakan bahwa "tempatnya emosi dalam keseimbangan" dan "menenangkan dan menyegarkan hati." Setelah invasi Irak dan tergulingnya rezim sekuler Saddam di tahun 2003, meningkatnya semangat militan Islam yang menganggap musik menjadi haram (dilarang) memaksa banyak pemain dan pengajar Oud bersembunyi atau mengasingkan diri.

Sumber :

  • http://stylegambus.blogspot.com/2011/06/sejarah-oud-gitar-gambus.html
  • http://www.lubzi.com/learnhowtoplayoud.htm

Minggu, 10 Mei 2015

Angklung (Alat Musik Tradisional Suku Sunda - Jawa Barat)


Kilas Sejarah : Pada zaman dahulu kala, angklung merupakan instrumen yang memiliki fungsi ritual keagamaan. Fungsi utama angklung adalah sebagai los medios de comunicación pengundang Dewi Sri (dewi padi/kesuburan) untuk turun ke bumi dan memberikan kesuburan pada musim tanam. Angklung yang dipergunakan berlaraskan tritonik (tiga nada), tetra tonik (empat nada) dan penta tonik (5 nada). Angklung jenis ini seringkali disebut dengan istilah angklung buhun yang berarti “Angklung tua” yang belum terpengaruhi unsur-unsur dari luar . Hingga saat ini di beberapa desa masih dijumpai beragam kegiatan upacara yang mempergunakan angklung buhun, diantaranya: pesta panen, ngaseuk pare, nginebkeun pare, ngampihkeun pare, seren taun, nadran, helaran, turun bumi, sedekah bumi dll.

Angklung adalah alat musik multitonal (bernada ganda) yang secara tradisional berkembang dalam masyarakat Sunda di Pulau Jawa bagian barat. Alat musik ini dibuat dari bambu, dibunyikan dengan cara digoyangkan (bunyi disebabkan oleh benturan badan pipa bambu) sehingga menghasilkan bunyi yang bergetar dalam susunan nada 2, 3, sampai 4 nada dalam setiap ukuran, baik besar maupun kecil. Dictionary of the Sunda Language karya Jonathan Rigg, yang diterbitkan pada tahun 1862 di Batavia, menuliskan bahwa angklung adalah alat musik yang terbuat dari pipa-pipa bambu, yang dipotong ujung-ujungnya, menyerupai pipa-pipa dalam suatu organ, dan diikat bersama dalam suatu bingkai, digetarkan untuk menghasilkan bunyi. Angklung terdaftar sebagai Karya Agung Warisan Budaya Lisan dan Nonbendawi Manusia dari UNESCO sejak November 2010.

Tidak ada petunjuk sejak kapan angklung digunakan, tetapi diduga bentuk primitifnya telah digunakan dalam kultur Neolitikum yang berkembang di Nusantara sampai awal penanggalan modern, sehingga angklung merupakan bagian dari relik pra-Hinduisme dalam kebudayaan Nusantara.

Catatan mengenai angklung baru muncul merujuk pada masa Kerajaan Sunda (abad ke-12 sampai abad ke-16). Asal usul terciptanya musik bambu, seperti angklung berdasarkan pandangan hidup masyarakat Sunda yang agraris dengan sumber kehidupan dari padi (pare) sebagai makanan pokoknya. Hal ini melahirkan mitos kepercayaan terhadap Nyai Sri Pohaci sebagai lambang Dewi Padi pemberi kehidupan (hirup-hurip). Masyarakat Baduy, yang dianggap sebagai sisa-sisa masyarakat Sunda asli, menerapkan angklung sebagai bagian dari ritual mengawali penanaman padi. Permainan angklung gubrag di Jasinga, Bogor, adalah salah satu yang masih hidup sejak lebih dari 400 tahun lampau. Kemunculannya berawal dari ritus padi. Angklung diciptakan dan dimainkan untuk memikat Dewi Sri turun ke bumi agar tanaman padi rakyat tumbuh subur.



Jenis bambu yang biasa digunakan sebagai alat musik tersebut adalah bambu hitam (awi wulung) dan bambu putih (awi temen). Tiap nada (laras) dihasilkan dari bunyi tabung bambunya yang berbentuk bilah (wilahan) setiap ruas bambu dari ukuran kecil hingga besar.

Dikenal oleh masyarakat sunda sejak masa kerajaan Sunda, di antaranya sebagai penggugah semangat dalam pertempuran. Fungsi angklung sebagai pemompa semangat rakyat masih terus terasa sampai pada masa penjajahan, itu sebabnya pemerintah Hindia Belanda sempat melarang masyarakat menggunakan angklung, pelarangan itu sempat membuat popularitas angklung menurun dan hanya dimainkan oleh anak- anak pada waktu itu.

Selanjutnya lagu-lagu persembahan terhadap Dewi Sri tersebut disertai dengan pengiring bunyi tabuh yang terbuat dari batang-batang bambu yang dikemas sederhana yang kemudian lahirlah struktur alat musik bambu yang kita kenal sekarang bernama angklung. Demikian pula pada saat pesta panen dan seren taun dipersembahkan permainan angklung. Terutama pada penyajian Angklung yang berkaitan dengan upacara padi, kesenian ini menjadi sebuah pertunjukan yang sifatnya arak-arakan atau helaran, bahkan di sebagian tempat menjadi iring-iringan Rengkong dan Dongdang serta Jampana (usungan pangan) dan sebagainya.

Dalam perkembangannya, angklung berkembang dan menyebar ke seantero Jawa, lalu ke Kalimantan dan Sumatera. Pada 1908 tercatat sebuah misi kebudayaan dari Indonesia ke Thailand, antara lain ditandai penyerahan angklung, lalu permainan musik bambu ini pun sempat menyebar di sana.



Bahkan, sejak 1966, Udjo Ngalagena —tokoh angklung yang mengembangkan teknik permainan berdasarkan laras-laras pelog, salendro, dan madenda— mulai mengajarkan bagaimana bermain angklung kepada banyak orang dari berbagai komunitas.

Jenis Angklung :
  1. Angklung Kanekes
  2. Angklung Reyog
  3. Angklung Banyuwangi
  4. Angklung Bali
  5. Angklung Dogdog Lojor
  6. Angklung Gubrag
  7. Angklung Badeng
  8. Angklung Buncis
  9. Angklung Padaeng
  10. Angklung Sarinande
  11. Angklung Toel
  12. Angklung Sri-Murni

Teknik permainan angklung

Memainkan sebuah angklung sangat mudah. Seseorang tinggal memegang rangkanya pada salah satu tangan (biasanya tangan kiri) sehingga angklung tergantung bebas, sementara tangan lainnya (biasanya tangan kanan) menggoyangnya hingga berbunyi. Dalam hal ini, ada tiga teknik dasar menggoyang angklung:

Kurulung (getar), merupakan teknik paling umum dipakai, dimana tangan kanan memegang tabung dasar dan menggetarkan ke kiri-kanan berkali-kali selama nada ingin dimainkan.
Centok (sentak), adalah teknik dimana tabung dasar ditarik dengan cepat oleh jari ke telapak tangan kanan, sehingga angklung akan berbunyi sekali saja (stacato).
Tengkep, mirip seperti kurulung namun salah satu tabung ditahan tidak ikut bergetar. Pada angklung melodi, teknik ini menyebabkan angklung mengeluarka nada murni (satu nada melodi saja, tidak dua seperti biasanya). Sementara itu pada angklung akompanimen mayor, teknik ini digunakan untuk memainkan akord mayor (3 nada), sebab bila tidak ditengkep yang termainkan adalah akord dominan septim (4 nada).

Sementara itu untuk memainkan satu unit angklung guna membawakan suatu lagu, akan diperlukan banyak pemusik yang dipimpin oleh seorang konduktor. Pada setiap pemusik akan dibagikan satu hingga empat angklung dengan nada berbeda-beda. Kemudian sang konduktor akan menyiapkan partitur lagu, dengan tulisan untaian nada-nada yang harus dimainkan. Konduktor akan memberi aba-aba, dan masing-masing pemusik harus memainkan angklungnya dengan tepat sesuai nada dan lama ketukan yang diminta konduktor. Dalam memainkan lagu ini para pemain juga harus memperhatikan teknik sinambung, yaitu nada yang sedang berbunyi hanya boleh dihentikan segera setelah nada berikutnya mulai berbunyi.



Berlatih Angklung

Angklung akan terdengar merdu dan megah jika dimainkan beramai-ramai dengan kompak. Untuk itu, diperlukan persiapan dan latihan yang cukup panjang, dipimpin pelatih yang cukup punya pemahaman musik umum maupun angklung. Tahap-tahap persiapannya adalah:

Pilih lagu dengan aransemennya. Lagu yang cocok dimainkan dengan angklung umumnya yang berirama riang, dan jika bisa ada bagian yang rancak, sehingga bisa diimprovisasi dengan teknik centok. Lagu ini kemudian perlu diaransemen khusus untuk angklung, dengan memiliki beberapa suara. Untuk latihan, aransemen ini kemudian ditulis di kertas yang besar (biasanya dalam notasi not angka).

Siapkan unit angklung sesuai aransemen. Dari aransemen angklung, bisa diketahui berapa angklung yang diperlukan berdasar rentang nada lagu dan keseimbangan intonasinya.
Kumpulkan pemain dan distribusikan angklung kepada mereka. Jika ada pemain yang memegang banyak angklung, harus diperhatikan agar si pemain tersebut tidak akan pernah memainkan dua angklung pada saat bersamaan. Untuk itu biasanya dipakai tabel tonjur.
Pemanasan. Sebelum berlatih, sebaiknya lemaskan dulu kaki dan tangan, lalu lakukan gerakan-gerakan dasar untuk kurulung maupun centok bersama-sama.
Mempelajari lagu. Bersama-sama, pelajari dan telusuri alur lagu, mana bait-bait dan chorus yang harus diulang. Perlahan-lahan mainkan lagu ini dibawah pimpinan konduktor. Disarankan agar selama latihan awal semua nada di-centok saja, jangan dikurulung dulu.
Menghafal not. Perlahan-lahan para pemain diminta menghafal not-not lagu dan bagian permainannya.

Meningkatkan teknik. Ini tahap polesan akhir, dimana konduktor bisa mulai memimpin dengan menekankan keserempakan permainan, dinamika, maupun penjiwaan.
Koreografi. Jika akan tampil dipentas, bisa mulai dipikirkan improvisasi agar para pemain melakukan gerakan yang menarik, tidak berdiri kaku terus menerus.

Angklung interaktif

Angklung interaktif adalah kegiatan dimana seorang konduktor mengajak banyak orang, yang umumnya awam, untuk bermain angklung beramai-ramai. Kegiatan ini bisa dilakukan di tempat pariwisata atau acara ramah tamah. Pada para peserta akan dibagikan angklung-angklung yang sudah diberi nomor sesuai nadanya. Lalu, sang konduktor akan memimpin, biasanya dengan cara:

Konduktor membuka satu layar besar bertuliskan lagu dalam not angka, lalu mengajak para peserta memainkan angklung yang tepat dengan menunjuk nada pada layar.
Konduktor mengajarkan isyarat tangan untuk nada-nada tertentu pada penonton, kemudian memimpin suatu lagu dengan memberikan isyarat yang tepat secara berurutan untuk diikuti para peserta. Isyarat tangan ini di-adaptasi oleh Mang Udjo, berdasar isyarat yang dikembangkan oleh John Curwen.
Sebelumnya, Pak Daeng Soetigna menggunakan isyarat gambar binatang untuk melatih anak-anak TK.


Modernisasi angklung

Secara esensial, angklung adalah alat musik bambu yang dimainkan dengan digetar. Hal tersebut tidak boleh diubah. Meski demikian, berbagai upaya kreatif untuk memodernisasinya terus berlangsung, seperti:

  1. Angklung elektrik karya Agus Suhardiman.
  2. Angklung otomatis, Tugas akhir Kadek Kertayasa di STIKOM Surabaya.
  3. Tra-digi, angklung robot yang dikontrol oleh i-pod, ciptaan Hasim Ghozali.
  4. Klungbot, robot angklung yang mula-mula dikreasi oleh Krisna Diastama dan Karismanto Rahmadika, kemudian dilanjutkan oleh Eko Mursito Budi.
Sumber :
  • http://infoangklung.blogspot.com/2012/10/sejarah-angklung.html
  • http://id.wikipedia.org/wiki/Angklung#Teknik_permainan_angklung
  • http://update-profile.blogspot.com/2011/11/sejarah-alat-musik-angklung.html

Sabtu, 09 Mei 2015

Wayang Kulit Sasak (Kesenian Tradisional Suku Sasak - Lombok, Nusa Tenggara Barat)


Kilas Sejarah : Bahan Dasar : Kulit kerbau, dan Tanduk kerbau.

Wayang Kulit Sasak berasal dari Lombok, Nusa Tenggara Barat. Disebut Sasak karena pembuatannya berasal dari etnis Sasak. Penatah wayang Sasak sampai saat ini ialah Amak Rahimah. Dahulu wayang Sasak dipergunakan untuk berdakwah agama Islam di pulau Lombok. Sekarang dipertontonkan dan untuk upacara adat, misalnya di masyarakat Malang kecamatan Gerung, kabupaten Lombok Barat. Bentuk wayang Sasak mirip dengan wayang kulit Gedog. Koleksi wayang kulit Sasak yang ada di Museum Wayang dibuat tahun 1925. Cerita wayang Sasak mengisahkan Amir Hamzah (paman Nabi Muhammad SAW). Amir Hamzah dalam wayang kulit Sasak, namanya diganti sesuai dengan nama indonesia (Jawa) yaitu Wong Agung Menak Jayengrana. Pedoman yang dipakai huruf bahasa Jawa, diambil dari serat Menak karangan Yosodipura.

Wayang adalah salah satu bentuk seni pertunjukan yang ada di Gumi Sasak sebagaimana daerah lain di Nusantara. Mengenai permulaan wayang di Lombk, tak seorang pun di zaman ini yang dapat mengetahui dengan pasti  kapan tepat pertama kali ( hari, tanggal, bulan dan tahun)  wayang masuk di Gumi Sasak. Kenyataannya bahwa tidak dijumpai leteratur tulisan yang mengungkapkan hal tersebut.

Menurut riwayat, menjelang kedatangan Islam di Lombok pernah terjadi musim pacakelik yang panjang yaitu selama tujuh tahun. Tanah menjadi kering dan rakyat menderita kelaparan. Hasil musyawarah para raja yang ada di Lombok memutuskan untuk mengutus  Datu Perigi untuk pergi bertapa ke Gunung Rinjani memohon petunjuk kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Dalam pertapaan itu Datu Perigi didatangi seorang berjubah putih yang bersedia membantu mencarikan jalan keluar mengatasi musim sulit yang dialami rakyat Gumi Sasak Datu Perigi disarankan mengadakan Gawe Mangajengan dan dalam gawe tersebut harus disertai dengan pagelaran wayang kulit.

Kemerau panjang itu terjadi hingga akhir abad XIV, jadi gawe magajengan itu dilaksanakan pada abad XV. Petunjuk ini memberikan indikasi bahwa wayang di Lombok sudah ada saat itu. Hal ini sejalan dengan pendapat Lalu Satriah yang menggunakan Babad Lombok sebagai sumber informasi. Lalu Satriah mengatakan bahwa wayang di Lombok sudah ada sebelum Sunan Prapen datang ke Lombok. Sunan Prapen datang di lombok sekitar tahun 884 H. Atau 1464 Masehi.



Di lain pihak, Lalu Maas dalam sebuah risalahnya ” Selintas Kilas Pewayangan di Lombok Timur ” mengatakan, bahwa yang pertama kali membawa wayang di Lombok adalah utusan Wali Songo dari Jawa yang datang untuk menyebarkan Islam. Wali Songo sering menggunakan wayang kulit sebagai media penyebaran Islam.

Mitos Wali Nyato’ diceritakan oleh Satriah bahwa ketika Wali Nyato’ masih muda, pada suatu malam beliau pergi menonton pertunjukan wayang ke tanah Jawa bersama-sama dengan teman akrab beliau dari Rembitan. Beliau berangkat menjelang waktu  isya ke Jawa dan pulang esok harinya menjelang  waktu subuh. Beliau menceritakan pengalamannya menonton wayang di tanah Jawa malam itu kepada teman- teman sepergaulan. Sejak saat itu tidak lama kemudian di Lombok ada pagelaran wayang kulit.

Mitos Pangeran Sangu Urip Pati , diceritakan oleh H. Lalu Ambawa  bahwa wayang pertama kali dibawa oleh Pangeran Sangu Urip Pati utusan Wali Songo dari Tanah Jawa. Beliau menyebarkan Islam dengan penuh perjuangan dan tidak meminta upah dalam menyajikan pertunjukan wayang. Upahnya hanya mereka yang menonton wayang harus membaca dua kalimah syahadat.  Melihat kenyataan ini berarti bahwa jelas wayang yang berkembang di Lombok adalah berasal dari Jawa.

Pewayangan yang berkembang lambat laun di Gumi Sasak dinamakan wayang Serat Menak Sasak. Lakon-lakonnya bertumpu pada kesusastraan wayang yang dikenal dengan Serat Menak. Serat Menak ini diubah dari hikayat Amir Hamzah, yang selaras dengan khasanah  kesusastraan Melayu  yang mengambil tema Persia, Syah Nameh, dan ditulis dengan bahasa Jawa.

Amir Hamzah adalah paman Nabi Muhammad SAW. yang  memperjuangkan agama Islam waktu itu. Amir Hamzah dijadikan tokoh sentral dalam pewayangan Serat Menak Sasak. Nama lain dari Amir Hamzah dalam pewayangan adalah Wong Agung, Jayeng Rane, Wong Menak, Ambiyah, Sang Menak Jayeng Murti dan lain-lain. Satu hal yang perlu diketahui menurut  penjelasan dalang Ki Lalu Jaye bahwa cerita pewayangan Serat Menak Sasak adalah cerita yang dirilis sebelum kelahiran baginda Rasulullah SAW hingga menjelang kelahirannya. Setelah itu tidak boleh lagi ada cerita yang dirilis, apa lagi menyangkut tentang Nabi. Jadi segala lakon yang dituturkan dalam wayang Serat Menak  adalah lakon tokoh sebelum lahirnya Nabi Muhammad SAW.

Bahasa yang dipergunakan dalam Wayang Menak Sasak adalah bahasa Kawi. Bahasa Kawi ini merupakan bahasa yang bersumber dari Jawa. Dengan demikian  apa bila kita melihat kenyataan-kenyataan tersebut berarti semakin jelas bahwa wayang, pewayangan, pedalangan Sasak adalah produk kebudayaan Jawa. Mengenai lakon-lakon yang biasa dipentaskan dalam wayang Serat Menak Sasak bersumber dari babon Serat Menak. Dari babon Serta Menak ini diturunkan cerita carangan seperti lakon Bangbari, Lahat, Liman Tarujinaka, Jubil, Kawitan Maktal, Kawitan Selandir, Kabar Sundari, Rengganis dan lain-lain.

LAKON YANG DIKENAL DALAM WAYANG SASAK
Pada pewayangan Serat Menak Sasak, banyak cerita yang dilakonkan. Cerita-cerita tersebut antara lain :
  1. Kawitan Maktal
  2. Kawitan Selandir
  3. Kabar Sundari
  4. Ajar wali
  5. Rengganis

Selain cerita yang disebutkan di atas masih banyak lagi cerita yang dilakonkan oleh para dalang. Salah satu yang paling terkenal ditulis dalam takepan daun lontar. Cerita tersebut dinamakan kelampan bel. Bel ini terdiri atas beberapa penangkilan atau episode. Paling kurang ada 7 (tujuh) penangkilan dalam lelampan bel. Bel ini mengisahkan tentang perjalanan Amir Hamzah atau Wong Menak dan Umar Maye yang berjalan menelusuri gumi untuk menyebarkan kebaikan.

Sumber :
  • http://www.museumwayang.com/Wayang%20Kulit%20Sasak.html
  • https://pkbmdaruttaklim.wordpress.com/2013/02/04/wayang-sasak/

Wayang Kulit Revolusi (Kesenian Tradisional Suku Jawa)


Kilas Sejarah : Bahan Dasar : Kulit kerbau, dan Tanduk kerbau.

Dalam kisah-kisah wayang klasik peran-peran tradisional dimainkan oleh dewa-dewa dan raksasa-raksasa, raja-raja dan puteri-puteri, kesatria—kesatria dan pelawak-pelawak. Dalam bercerita tentang kisah manusia, mereka mencontohkan pada dunia dewa dan raksasa. Kiasan-kiasan tersebut terutama digunakan pada cerita wayang Jawa dengan berbagai aksen yang dapat dikenali. Sejak dahulu kerajaan-kerajaan dipulau Jawa selalu mengembangkan gaya wayangnya masing-masing. Topik-topik baru serta perubahan dalam penggunaan warna dan bentuk diperkenalkan oleh pembuat dan dalang profesional, yang biasanya masih termasuk kerabat keluarga kerajaan.

Pada tahun 1930-an, Raden Mas Sayid menjadi tenar di istana Mangkunegaran dengan mempublikasikan karyanya dan memimpin sanggar, sekaligus sebagai dalang, untuk pembuatan dan pergelaran boneka wayang. Di sanggar ini Sayid menciptakan Wayang Sandiwara, dengan menampilkan boneka-boneka naturalistis yang membawakan ceritera-ceritera kontemporer, seperti kisah-kisah propaganda untuk pemerintahan Jepang. Ceritera seperti itu biasanya dibawakan dalam waktu 3 jam, dari pukul 9 malam sampai pukul 2 dini hari, bertentangan dengan pergelaran wayang klasik yang berlangsung dari setelah waktu magrib sampai subuh.

Beberapa waktu setelah Indonesia merdeka pada tahun 1945, pulau Jawa masih terus bergejolak dan pada masa itu perhatian terhadap kisah-kisah mengenai ”Verenigde Oostindische Compaigne” atau VOC, mengenai Marskal bertangan besi Daendels, yang diJawa terkenal sebagai Tuan Guntur, tentang Perang Jawa, Perang Aceh, dan lain-lain. Kondisi masyarakat tersebut membuat Sayid tergerak hatinya untuk membantu peranan para pemimpin Indonesia dalam membangkitkan dan memperkuat nasionalisme bangsa. Tahun 1950-an RM Sayid membuat suatu perangkat wayang khusus untuk mengangkat topik-topik tersebut diatas, yang diperkenalkan dengan nama ”Wayang Perdjoeangan”,(sekarang dikenal dengan nama Wayang Revolusi).

Perangkat wayang ini terdiri dari sekitar seratus dua puluh boneka, mencangkup semua tokoh-tokoh sejarah terkenal dan seleksi dari tokoh-tokoh rakyat Indonesia diantaranya: petani-petani yang kekar, orang desa yang murah senyum, wanita-wanita agung dan amtenar, cendikiawan muda, nasionalis tua dan muda yang bertekad kuat; kadang-kadang sebagian atau seluruhnya memakai seragam militer. RM. Sayid membuat semua boneka wayang tokoh-tokoh perjuangan dan pergerakan nasional seperti Diponegoro, Soekarno, Hatta, Sutan Syahrir dan H.O.S Tjokroaminoto dengan cermat. Walaupun ia tidak memberi nama kepada kebanyakan tokoh-tokohnya seperti Haji Agus Salim, salah satu pemimpin nasional terbesar, seperi kepala negara dari Ubud, Bali, Tjokorde Gde Rake Soekmawati. Selain itu, dari pakainnya kita dapat segera mengenali boneka tokoh-tokoh seperti Bupati, Petani dan Wanita, Pedagang serta pejuang.

Dari pihak lawan RM. Sayid membuat gambaran yang sangat mirip dari Jenderal Van Heutz, yang terkenal dengan penaklukan Aceh dan gambaran gubernur Jenderal Hindia Belanda terakhir, Van Mook. Disamping itu juga ada boneka tokoh-tokoh amtenar VOC memakai seragam berpita-pita yang baru tiba dari Holland dengan pipi kemerah-merahan dan bertulang besar, tokoh-tokoh tuan-tuan penuh percaya diri berpakaian seragam ”tropis” putih, sebagaimana mereka yang memegang mereka yang memegang kekuasaan dikalangan pemerintahan dan swasta pada tahun 1920-an, dan sejumlah boneka tentara berkulit gelap kena sinar matahari yang memakai topi konoi bertepi lebar seperti yang dipakai oleh Koninklijk Nederlands-Indisch leger pada abad yang lalu. Ada juga boneka-boneka yang menggambarkan pasukan Belanda yang menggambarkan pasukan Belanda yang pada tahun 1947 dan 1948 digunakan untuk operasi militer besar-besaran yang sering kita sebut dengan agresi militer. Boneka wayang ini berambut pirang, gemuk atau gendut, berkulit sangat putih, bermata sangat biru, dan sangat lugu.



Dari lukisan wajah, tubuh dan sikap mereka yang begitu mirip, walaupun terdapat perbedaan-perbedaan kecil, jelas bahwa mereka dibuat dengan cetakan. RM. Sayid tidak mengusahakan membuat lukisan karakter individual satu-pun diantaranya dan hal itu berkontras tajam dengan gambaran penuh seninya dari boneka tokoh-tokoh Indonesia, bahkan dari bagian-bagian dekor, senapan, panah, pohon-pohon yang hangus terbakar dan mimbar dengan segelas air untuk pembicara. Semua tokoh itu menunjukan pengamatan tajam sang penciptanya. RM. Sayid sendiri adalah seorang seniman yang terlibat dalam perjuanagan kemerdekaan bangsa Indonesia. Pada tahun 1960-an, perangkat wayang yang istimewa ini dibeli oleh Wereldmuseum (dahulu Museum Voor Vol kenkunde atau Museum Ilmu Bangsa-Bangsa) di Rotterdam.

Akan tetapi karena memburuknya hubungan Belanda dengan Indonesia dikarenakan masalah Irian Barat, yang membuat pameran tentang pandangan Indonesia mengenai dekolonisasi pada waktu itu tidak mungkin diselenggarakan pada tahun 1990 yang menampilkan presentasi multi media dengan wayang-wayang RM. Sayid, gambar-gambar bersejarah, musik dan video-video pergelaran Wayang Revolusi yang direkam khusus untuk acara tersebut, yang dimainkan oleh dalang berkebangsaan Belanda, Rien Baartmans. Wayang Revolusi tidak pernah memiliki naskah cerita tertulis sehingga pergelaran wayang tersebut tidak memiliki pakem yang khusus. Pada umumnya pergelaran wayang ini mengambil cerita dari berbagai sumber sejarah nasional Indonesia dan disesuaikan dengan tokoh-tokoh wayang yang ada.

Pada tahun 1995, bertepatan dengan peringatan 50 tahun Republik Indonesia merdeka, Pemerintah kota Rotterdam menghadiahkan 8 buah panel yang berisi foto-foto adegan dalam Wayang Kulit Revolusi kepada Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Pada bulan Agustus 2005, Wereldmuseum Rotterdam menyerahkan sebagian koleksi Wayang Kulit Revolusi tersebut kepada Museum Wayang untuk dipinjamkan secara jangka panjang. Penyerahan koleksi wayang ini sesuai dengan kebijakan kementrian pendidikan, Budaya dan Ilmu Pengetahuan yang sejak tahun 1988 mendorong museum-museum di Indonesia untuk meningkatkan hasil-hasil koleksi mereka. Pada waktu yang sama, Museum Wayang membuat duplikat dari seluruh perangkat Wayang Kulit Revolusi

Pemda DKI Jakarta yang diwakili oleh Wagub Provinsi DKI Jakarta. Kepala Dinas Kebudayaan dan Permuseuman Provinsi DKI Jakarta dan Kepala Museum Wayang pada tanggal 21 April 2005 secara simbolis menerima penyerahan Wayang Kulit Revolusi asli dari Walikota Rotterdam kepada Pemda DKI Jakarta di Belanda. Acara ceremonial Penyerahan Hibah Wayang Revolusi dari Wereldmuseum Rotterdam melalui Walikota Rotterdam Mr. Ivo Opstelten kepada Gubernur Provinsi DKI Jakarta Bpk. Sutiyoso untuk Museum Wayang 24 September 2005, sekaligus dilaksanakan Pameran Wayang Revolusi yang dilanjutkan dengan Pagelaran wayang tsb dengan Lakon “ Jogya Kembali “ dengan dalang Ki Bambang Suwarno, S.Kar.M Hum.

Sumber :
  • http://www.museumwayang.com/Wayang%20Kulit%20Revolusi.html

Wayang Kulit Ukur (Kesenian Tradisional Suku Jawa - Yogyakarta)


Kilas Sejarah : Bahan Dasar : Kulit kerbau, dan Tanduk kerbau.

Wayang Ukur, diciptakan oleh Sukasman (seniman) asal Yogyakarta (1964). Meditasi sebelumnya, wayang ini proses pembuatannya selalu diukur-ukur bentuk tinggi dan panjang pundaknya sehingga sesuai dengan selera dan jiwa seninya, bahkan dalam proses pembuatan bentuk fisik sudah banyak merubah bentuk pakem wayang pada umumnya. Selalu ada bentuk atau tokoh wayang baru dalam setiap kebutuhan untuk pertunjukan. Sosok punakawan seperti Petruk dibuat berbagai macam, Petruk menjadi Ratu dengan segala kemewahan kostum yang dikenakannya. Petruk menggunakan Praba, Irah-irahan yang menjulang keatas dengan desain ulur. Tokoh wayang Batara Guru dengan background Matahari yang sangat menyolok. Corak dan ornament wayang ukur sudah melalui tahap-tahap deformasi yang sangat banyak, namun pakem wayang pada umumnya masih sangat melekat pada sosok wayang ukur tersebut. Ceritera yang dibawanya-pun juga masih mengikuti cerita-cerita pada umumnya dengan mengacu kebutuhan sang dalang jika sang dalang tersebut ingin menambah cerita tambahan diluar pakem, sehingga bentuk wayang ukur inipun sebetulnya tidak terbatas. Bahkan jika Sukasman sendiri yang menjadi dalangnya, beliau selalu menampilkan patung-patung kreasinya sendiri sebagai arsitektur tata panggung. Sukasman sebagai pembuat wayang ukur banyak mengkreasi bentuk-bentuk wayang baru dengan segala keindahan ornamen serta bentuk fisik wayang tersebut. Banyak pelaku seni menyebut wayang ukur adalah wayang kontemporer. Apapun yang dikatakan oleh kebanyakan orang bagi Sukasman wayang tidak harus selalu paten secara bentuk, namun kreasi wayang harus selalu bertambah agar kesenian atau kebudayaan wayang selalu tumbuh segar dinegeri ini.



Ketika wayang dimaknai dengan seni bayang-bayang, barangkali pemahaman itu perlu diaktualisasi. Dan hal itu yang dilakukan oleh almarhum Ki Sukasman yang mengagas lahirnya jenis Wayang Ukur. Sebuah gagasan ‘menyimpang’ dari pementasan wayang kulit pada umumnya. Sebab, dalam konsep Wayang Ukur, kelir (layar-red) bukan difungsikan sebagai pembatas antara dalang dengan penonton tetapi menjadi bagian dari ‘properti’ pementasan. Lebih dari itu, kelir menjadi media untuk menampilkan illustrasi 3 dimensi untuk memperkuat ilustrasi lakon.

Gagasan pembaharuan seni pakeliran lewat “Wayang Ukur” ini diperkenalkan oleh Ki Sukasman sejak tahun 80-an atas keresahannya terhadap semakin menipisnya anak muda yang menggemari pertunjukan wayang kulit. Sukasman menciptakan sebuah seni garda depan tanpa kehilangan roh tradisinya. Dengan daya ungkap melalui bahasa Indonesia. Wayang Ukur mencoba memberi tawaran sebuah seni pertunjukan bayang-bayang yang berwawasan global. la melakukan eksperimen dengan menciptakan wayang kulit genre baru, dengan kaidah seni rupa dan teknik tata cahaya yang baru, ia menciptakan seni pertunjukan kontemporer wayang sebagai seni bayang-bayang dengan memadukan unsur-unsur seni tari, teater, gamelan, dan seni sastra yang tidak lagi tunduk pada konvensi tradisi.

Namun, alih-alih mendapat dukungan, Ki Sukasman justru mendapat cemoohan dari rekan sesama dalang. Sukasman bahkan pernah dituduh sengaja merusak pakem wayang. Sebab, selain melakukan perubahan dalam pementasan wayang, Ki Sukasman juga merombak ‘tata sungging’ wayang yang telah ada.

Sumber :

  • http://www.museumwayang.com/Wayang%20Kulit%20Ukur.html
  • https://wayang.wordpress.com/category/wayang-jenis2/wayang-ukur/



Prev home